TANPA MUDIK, IKATAN BATIN TETAP TERJALIN HARMONIS

Oleh : Tia Rahmania, M.Psi.,Psikolog

(Dekan Fakultas Falsafah dan Peradaban, Universitas Paramadina dan Ketua APSI (Asosiasi Psikolog Sekolah Indonesia) Wilayah Banten)

Esensi mudik adalah bersilaturahmi dengan keluarga yang sudah lama tidak berjumpa. Sekali setahun minimal pada saat Idul Fitri adalah momentum bertemu sanak famili, melepas rindu pada teman-teman sejawat di masa kecil. Bahkan, dalam tradisi ini umat Islam biasanya menjadikannya sebagai ajang untuk berbagi rejeki melalui zakat, sedekah maupun pemberian oleh-oleh.

Pada bangsa Indonesia, umumnya ada semacam kebutuhan kultural yang seolah-olah menjadi sebuah kekuatan yang mampu “memaksa” para perantau untuk mudik mengunjungi orang tua dan kerabat mereka pada saat lebaran. Mudik dilihat sebagai suatu tradisi, sebagai kebiasaan masyarakat muslim di Indonesia yang secara moral dan spiritual sebagai bakti anak kepada orangtua. Kebiasaan sungkeman, meminta maaf hingga berziarah mendoakan anggota keluarga yang telah tiada menunjukan bahwa mudik bukan hanya perjalanan fisik tapi juga rohani. Sungkeman atau cium tangan orangtua bukan hanya kontak fisik melainkan memiliki makna spiritual karena orangtua dianggap sebagai perantara bagi anak untuk semakin dekat dan mengenal Tuhan.

Mudik merupakan fenomena sosio-kultural yang berkaitan erat dengan alasan kultural yang menyangkut tiga hal pokok:

  1. Kebutuhan kultural mengunjungi orang tua dan keluarga,
  2. Berziarah ke makam kerabat,
  3. Menilik warisan tinggalan keluarga di tempat asal.

Hanya saja yang paling pokok dari ketiga hal di atas adalah alasan mengunjungi orang tua dan kerabat.

Kebutuhan kultural itu begitu kuatnya dan mendorong orang untuk mudik. Dorongan itu semakin kuat  dengan adanya persepsi bahwa kesempatan yang paling cocok dan pantas bagi anak-anak terhadap orang tua adalah saat Lebaran atau Hari Raya Idul Fitri. Pada akhirnya ikatan batin dengan orangtua dan kewajiban mendoakan anggota keluarga turut melestarikan tradisi mudik.

Mudik mengukuhkan sifat manusia sebagai makhluk sosial. Silaturahmi yang terjalin selama mudik adalah interaksi yang manis antara manusia dan sesamanya. Kita diingatkan bahwa kita tidak bisa hidup sendiri dan perlu orang lain untuk membantu mempertahankan kehidupannya karena memang ditekankan untuk kita baik pada keluarga, kerabat, tetangga, teman sejawat, dll. Apalagi adanya keyakinan dalam agama Islam bahwa Rasulullah SAW menyatakan dalam hadisnya bila ingin kita dilapangkan rejeki dan dipanjangkan usia maka kita perlu bersilaturahmi.

Dalam tinjauan psikologi, pada hakikatnya manusia membutuhkan mudik, karena dari sini manusia mencintai dan memenuhi kebutuhan nilai-nilai dasar luhur kemanusiaan, seperti: butuh dimaafkan, ingin memaafkan, menyayangi dan disayangi, menerima dan berbagi serta berkumpul bersama. Hal yang menurut tokoh psikologi bernama Maslow menjadi kebutuhan dasar manusia yang tidak akan luntur terkikis waktu sepanjang kehidupan manusia itu ada.

Menurut penelitian Sudjito (2012), terdapat tujuan atau harapan dari mudik: Pertama, mencari berkah dengan bersilaturahmi dengan orang tua, kerabat, dan tetangga. Kedua, terapi psikologis. Kebanyakan perantau yang berasal dari kota besar karena bekerja di sana memanfaatkan momen lebaran untuk refreshing dari rutinitas pekerjaan sehari-hari. Sehingga, ketika kembali bekerja, kondisi sudah fresh kembali. Ketiga, mengingat asal usul. Banyak perantau yang sudah memiliki keturunan sehingga dengan mudik bisa mengenalkan anak-anak mereka dengan asal usul mereka. Keempat, menunjukan diri sebagai orang yang telah berhasil mengadu nasib di kota besar.

Kondisi pandemi Covid-19 ini menjadikan tradisi tahunan ini dianjurkan untuk tidak dilakukan karena alasan membahayakan kesehatan. Tentunya karena ini sudah menjadi kebiasaan, maka saat hal tersebut tidak dilakukan akan terasa sesuatu yang “hilang” atau janggal. Akan tetapi karena diketahui bahwa kondisi ini dialami tidak hanya oleh satu dua orang tetapi nyaris semua masyarakat disarankan untuk tidak mudik ditambah adanya alasan yang kuat dari otoritas/pemerintah serta didukung oleh pihak keluarga yang lain, seharusnya akan muncul pemahaman dan pengertian. Apalagi apabila pemahaman dan sosialisasi dilakukan secara massif dan terus menerus melalui media sosial serta disertai alasan-alasan yang masuk akal terkait dengan kesehatan dan nyawa maka lebih memudahkan kepatuhan dari masyarakat. Selain itu adanya konsekuensi yang diberikan kepada masyarakat oleh pihak otoritas seperti meminta kendaraan berbalik arah diikuti sanksi dan anjuran dari anggota keluarga yang lebih senior maka akan memperkuat kesadaran untuk bersabar agar tidak mudik dulu.

Adanya teknologi yang semakin canggih sesungguhnya dapat menjadi alternatif penawar rindu karena tidak bisa mudik. Komunikasi jarak jauh yang tidak hanya menampilkan suara tetapi juga visual sangat membantu tetap terjalinnya komunikasi dengan orang yang kita sayangi dan hormati di kampung halaman. Sebuah studi terkait komunikasi digital yang dilakukan Sherman, Michikyan dan Greenfield (2013) menyampaikan bahwa pengalaman subyektif dalam membentuk keterikatan dengan melakukan video call maupun chat tidak jauh berbeda dengan bertemu dan tatap muka secara langsung dengan orang yang bersangkutan. Kita tahu bahwa keinginan untuk membentuk ikatan antar pribadi yang dekat seperti ikatan anak pada orangtua adalah motivasi dasar manusia dan sesungguhnya keterikatan sosial tetap bisa terbentuk bahkan ketika keadaan konektivitas yang tidak ideal sekalipun (Baumeister dan Leary, 1995).

Selain itu bisa juga untuk mengobati kerinduan kita menyediakan makanan khas kampung halaman di rumah. Hal ini akan menjadi pengingat juga dengan kampung tempat kelahiran kita ataupun asal kita. Sensasi rasa dan aroma akan membangkitkan sensori kita dan menjadikan suasana kampung halaman terbawa ke rumah walaupun tanpa mudik.  Jangan khawatir, pemerintah juga telah merencanakan liburan bersama pengganti di bulan Desember yang bisa dimanfaatkan sebagai waktu melakukan mudik, harapannya hal ini bisa menjadi pengobat.

Saat ini penting bagi kita semua menyadari bahwa ini adalah suatu kondisi yang tidak biasa tetapi semua mengalami imbasnya dari berbagai aspek/sisi. Dalam kondisi ini kita harus tetap positif dan bersabar, tingkatkan kepekaan kita pada kondisi sekitar kita, apalagi dalam menyambut Hari Raya Idul Fitri. Perbanyak berbagi dengan orang lain, seperti tetangga ataupun yang kurang beruntung daripada kita. Ini akan membuat kita jadi menyadari dan bersyukur bahwa masih banyak yang belum seberuntung kita sehingga tumbuh pemahaman bahwa walaupun rindu tetapi kita masih bisa bersyukur diberi kelebihan dan kesehatan oleh Allah swt. Sementara bagi mereka yang terdampak langsung, dapat melihat hal ini sebagai ujian untuk naik ke level kualitas diri yang lebih baik, penghapus dosa sehingga menjadikan sabar sebagai salah satu kunci bisa melewati cobaan ini. Tetaplah menerapkan perilaku physical distancing serta menahan diri untuk tidak keluar rumah bila tidak perlu. Bersabar untuk tidak mudik sesungguhnya adalah upaya baik yang dilakukan untuk menyelamatkan kesehatan diri serta orang lain. Insya Allah hal tersebut pun akan dilihat sebagai ibadah dan diganjar pahala. Kerinduan kuat yang dirasakan, cukup terobati dengan menggunakan teknologi modern untuk berkomunikasi jarak jauh. Insya Allah keluarga di kampung halaman pun akan memahami dan ikatan batin tetap terjalin dengan harmonis.

Daftar Pustaka

Arribathi, H. Abdul Hamid & Aini, Qurotul. 2018. Mudik Dalam Perspektif Budaya dan

Agama (Kajian Realistis Perilaku Sumber Daya Manusia). Journal CICES

Cyberpreneurship Innovative and Creative Exact and Social Science. Vo.4 No.1-Februari 2018.

Baumeister, Roy & Leary, Mark. 1995. The Need to Belong: Desire for Interpersonal   

Attachments as a Fundamental Human Motivation. Psychological Bulletin 117(3):497-529. June 1995.

Sherman, Lauren; Michikiyan, Minas & Greenfiled, Patricia. 2013. The effects of text, audio,

video, and in-person communication on bonding between friends. Cyberpsychology 7(2):Article 1. July 2013.

Sudjito, Arie. 2012. Mudik Lebaran. Yogyakarta, Gajah Mada.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

shares